Bolos Sekolah

Posted On November 15, 2009

Disimpan dalam Pelajaran
Tag: ,

Comments Dropped leave a response

(judul yang terlalu frontal mungkin)

Nyadar gak kita udah berada di dalam kelas selama 10 tahun lebih?

Iya, dan bakal sampe 12 tahunan kita berada di dalam ruangan belajar ini.

Nah, yang jadi pertanyaan apa selama 10 tahun ini kita efektif berada di dalam kelas?

Mari introspeksi…

*flashback. Atau entah apa*

Saya baru aja disuruh sama orang tua buat ngebantu mereka untuk suatu hal yang cukup penting. Hanya saja saya menemukan satu kendala yang cukup besar. Gue sibuk.

Terlalu jahat kalo saya dibilang sibuk. Toh apa kerjaanmu mel? Sekolah aja belum tamat. Bilang sok sibuk lagi…

Kenyataannya, sekolah itu bikin sibuk. Entah sadar ato ngga.

Setiap hari dateng ke sekolah. Merhatiin guru hampir 3/8 hari ato lebih tepatnya sekitar 7-jam-an. Terus dikasih pr setumpuk. Balik. Ngerjain pr setumpuk.

Belum lagi besok ulangan lah, ujian lah. Nah lo.

Oh iya, belum juga buat kamu yang ikutin organisasi. Pastinya ada kegiatan juga sih.

Dan gak salah kalo  terasa sibuk banget.

Sibuk.

Dan pastinya kita membutuhkan yang namanya hari libur dong. Dan ternyata hari minggu aja gak cukup. Bahkan hari minggu untuk istirahat bisa tersita untuk mengerjakan pr lah, apa lah.

Gue pengen bolos!

Seriusan.

Kenapa harus setiap hari ya ke sekolah?

“Untuk belajar!”

Iya kalo belajar. Kalo nyatanya di sekolah gak bisa konsentrasi belajar gimana? Ada tugas ini lah tugas itu lah. Males pelajaran ini lah pelajaran itu lah.

Terkadang pula saya pernah ngerasain ke sekolah gak dapet apa apa. Malah cape hate mereun yang didapetin. Entah ujug2 ulangan jelek dan gurunya gak baleg neranginnya (ato yang pasti kita gak bisa belajar dengan serius)

Dan nyatanya buat apa ke sekolah kalo emang kita bisa belajar sendiri?

Here’s the fact: Thomas Alfa Edison, penemu besar di dunia, gak sekolah. Bahkan dikeluarin dari sekolahnya. Dan akhirnya dia diajarin ortunya dan kemudian otodidak (kalo gak salah)

Daripada lu ke sekolah, rada2 teu puguh dan gak ada yang masuk ke otak, kenapa gak dirumah, belajar pelajaran yang lu bener bener pengen belajar yang mungkin lebih masuk ke otak.

Ato mungkin yang sering mendapatkan tugas dari sekolah, mending kerjain di rumah. Fokusin ke yang belum dikerjain. Toh di sekolah juga kan paling perhatiin guru. (dan mungkin rada geje)

Buat yang hobby olahraga juga kan bisa olahraga pagi2. Siangnya bisa belajar.

Terus masuk sekolah pas ulangan aja (jangan ditiru)

Kenyataannya, yang bikin saya geuleuh ato keheul istilahnya mah gara gara ada kewajiban kehadiran. Sampe2 kehadiran kudu 90%. Artinya kalo mau gak masuk sekolah paling banyak dua minggu sekali

“makin sering hadir, makin besar nilainya, dan itu kewajiban”

Keheul gak? Buat yang rajin ke sekolah gak apa apa.

Tapi buat kita? (kita? Lo aja kali)

Jujur aja, faktanya saya gak pernah alpa loh! (bangga mel?)

Peraturan itu yang bikin saya terpaksa setiap hari ke sekolah.

Sebenernya enakan jadi mahasiswa loh! Seriusan!

Gak usah setiap hari ngampus, yang penting bisa belajar.

Loh kok jadi kesitu ya?

Intinya: Pak, Bu, Pemerintah, atau siapapun…

Kami (atau saya lebih tepatnya) sebenernya keberatan diberi kewajiban kehadiran di sekolah.

Kalaupun boleh (amat sangat gak mungkin) ada “Izin belajar di rumah”

Ini hanya keluhan seorang siswa yang (mungkin) jenuh sekolah.

*maafkan apabila ada salah kata. Yang jelas ini adalah curhatan saya mengenai satu kata: SEKOLAH*

Mello, sesaat sebelum menghafal PKN buat ulangan besok. Gile besok gue dua kali ulangan. 日本語 ama PKN.

Bersih

Posted On November 1, 2009

Disimpan dalam Uncategorized

Comments Dropped one response

Hari ini saya memutuskan untuk mencuci motor.

Kapan ya saya terakhir mencuci motor?

Tiga minggu?

Tidak, tidak, lebih dari satu bulan mungkin.

Satu bulan? waktu yang cukup lama.

sangat bertentangan dengan cuaca akhir akhir ini yang hujan deras menyiram kota bandung.

Kotor? ya.

terkadang mencuci motor memberikan inspirasi bagi saya.

melihat motor saya mendapatkan kesegaran. seakan akan ia berada di padang pasir, lalu menemukan oase.

betapa segarnya.

meskipun saya berkeringat dibawah terik matahari.

itu saya lakukan supaya motorku bersih.

Ya, BERSIH.

mungkin sejak kejadian nyemplung itu saya dapet sesuatu.

misalnya saja saya satuhari tanpa motor, motornya tidak bisa nyala karena mesinnya bener bener kotor.

terus kudu diservis deui.

nah lo?

saat kau udah bisa apik, cobalah untuk bisa bersih.

“Kebersihan itu sebagian dari iman”

saya pernah mendengar kata ini ketika sd. Ya, SD. bahkan tk mungkin tahu ini.

tentunya menyenangkan melihat segala sesuatunya bersih. bersih. bersih.

mengkilap.

seperti tanpa kaca.

now, back to reality

tau JADWAL PIKET gak?

Tulisan nama nama orang yang dibagi bagi berdasarkan hari hari sekolah yang dipampang di ruangan kelas yang sekedar memperindah kelas. ditaruh di depan kelas, dekat dengan meja guru, atau, di belakang kelas.

tapi gak pernah dipampang sama sekali di pikiran atau di hati.

ngaku! lo juga mel! ngaku!

ketauan lu mel jarang piket!

kalo ditanya tentang jadwal piket, buat apakah itu.

inilah contohnya:

Guru : Ini papan tulisnya penuh. gak ada yang bersihin ini? siapa yang piket?

Siswa : (siswa diam.)

Siswa1: oh si ITU piket bu!

Guru : coba ibu lihat jadwalnya… (melihat jadwal) Ah, si INI, ayo hapus papan tulisnya!!

itulah gambaran secara singkat jadwal piket.

apalagi di sekolah saya, piket dipertanyakan.

ah da percuma, ada penjaga sekolah gini

kalo misalnya jadi penjaga sekolah gimana?

nah lo.

kalau gitu, mari kita lanjutkan!

eh ngga, itu mah sby

mari kita tingkatkan!

mari kita aktifkan kembali!

buat siapa aja yang males bersih bersih (kayak saya)

ayo kita bersih bersih.

jangan sampe ada kejadian karena sesuatu yang kotor.

SEMANGAT

Apik

Posted On Oktober 31, 2009

Disimpan dalam Pelajaran
Tag: , , , , ,

Comments Dropped leave a response

Sore itu saya membuka sebuah toples/kotak makanan bewarna merah. Bukan berisikan bekal ataupun bolu. Melainkan bagian bagian dari handphone saya yang berserakan dengan beras beras dibawahnya. Sayapun memasang batere ke handphone itu, berharap ia menyala.

Tetapi tidak.

Hanya muncul layar putih.

Ya, putih. Putih yang bersih. Memberikan cahaya putih. Mungkin hp itu seakan akan menunjukkan kesuciannya. Ah, bukan kesucian. Tetapi kelelahan hp itu, seakan hp pucat pasi, tidak kuat untuk berpikir, bersosialisasi, ataupun hanya mengedipkan mata.

Seakan teringat kenangan saya bersama hp tersebut.

Ada kenangan indah dengan hp tersebut?

Mungkin indah bagi saya.

Tetapi tidak bagi hp itu.

Saya mungkin bisa online di hp itu, sampai ia kelelahan. Sampai ia kehilangan energinya.

Terkadang saya mengalihkan perhatian saya kepadamu daripada melihat guru menerangkan, memberikan ilmunya.

Terkadang saya memaksakan ia menyala ketika sedang tidur.

Apalagi membantingmu. Saya bahkan tidak ingat berapa kali membantingmu.

Lihat, goresan goresan luka perih disekitarmu.

Tapi waktu itu, saya hanya acuh tak peduli. Seakan akan engkau tiada apa apa.

Hingga akhirnya ada suatu kejadian yang membuat saya benar2 ingin meminta maaf kepadamu…

Hari itu, kamis, pagi hari.

Saya tidak sengaja menjatuhkanmu ke dalam seember air.

Langsunglah engkau mati/tidak mati alias koma.

lalu saya memisahkanmu dengan bateremu dan perangkat2 di dalamnya.

Berharap engkau hidup.

Ternyata tidak,

Ya, Tidak.

Muncullah tanda Tanya dalam diriku,

“Apakah saya perusak?”

Lihatlah handphone yang malang ini.

Atau, tidak tidak.

Lihatlah laptop yang tak bisa lagi memakai sumber energi kimia ini.

Atau, tidak tidak.

Lihatlah kamar saya yang tidak tertata ini.

Atau, tidak tidak, ada lagi.

Lihatlah dirimu yang dirusak olehmu sendiri ini.

Lihat baik baik.

Lihat apa yang engkau perbuat.

Lihat hasil yang engkau perbuat.

Lihat pikiranmu yang engkau pikirkan.

LIHAT DIRIMU SENDIRI

Bukan bukan, bukan membuatmu jatuh.

Tapi membuatmu berintrospeksi!

Lihatlah, hanya karena benda kecil ini, engkau sebegitu hancurnya.

Bersyukurlah, hp yang mendapatkan ini.

Bagaimana jika dirimu sendiri yang mendapatkan ini?

Kalau saya lihat, saya bukan orang yang menyayangimu.

Bahkan saya tidak APIK.

Saya sering ditegur oleh mantan teman sebangku saya,

“KEBIASAAN MEL!”

Hanya karena saya meminjam peralatannya dan tidak menaruhnya di tempat yang semestinya.

Bahkan saya sering ditegur oleh ibu saya,

“KALAU NARUH BARANG JANGAN BRA BRU BRA BRU” (notes: taro sembarangan)

Kebiasaan sepulang sekolah saya.

Mungkin ada banyak teguran teguran tentang saya yang tidak apik.

Mungkin pembaca sendiri pernah menegur saya yang tidak apik.

Satu hal, yang harus saya lakukan,

Belajar untuk jadi apik.

Janganlah sampe ada kejadian lagi karena saya tidak apik.

Mungkin Cuma 4 huruf saja.

Tapi sangat bermakna bagi saya.

(readers, doakan hp saya bisa menyala ya. Tetap ingatkan saya untuk bisa apik, J by the way, ini post comeback-wordpress. Dimulai dari huruf A.Dan 444 words!)

Bandung, 31 Oktober 2009.

Mello.